Survei Batimetri

Survei Batimetri

survei batimetri di indonesia
Peta Hasil Survei Batimetri

1. Pengertian Survei Batimetri.

survei batimetri adalah proses identifikasi untuk memperoleh data kedalaman dan kondisi topografi dasar perairan. Selain itu juga untuk mengetahui lokasi dari objek-objek yang berpotensi menimbulkan bahaya pada suatu perairan, seperti di danau, sungai, laut ataupun teluk.

Pemetaan batimetri penting dilakukan untuk mendapatkan informasi dalam rangka perencanaan, kegiatan dan pengambilan keputusan terkait informasi dibidang kelautan. survei ini juga dilakukan untuk mengetahui tingkat kedalaman suatu perairan dengan membandingkan perbedaan titik kemiringan dari dasar perairan tersebut dengan jarak mendatarnya.

Pemetaan batimetri terbagi menjadi 3 tahapan yaitu pengambilan data, pengolahan data dan penyajian data. Ketiga tahapan tersebut dilakukan untuk menghasilkan peta batimetri yang menggambarkan relief dasar perairan, sehingga dapat digambarkan konturnya.

Unsur utama dalam pemetaan batimetri adalah pengukuran jarak dan kedalaman. Untuk pengukuran jarak dapat menggunakan alat Total Station, Electronic Distance, Measurement (EDM), atau Global Positioning System (GPS). Sementara untuk mengukur kedalaman terdapat 3 metode yang dapat digunakan yaitu :

  •  Metode mekanik

Pengukuran secara langsung menggunakan alat ukur

  • Metode optik

Memanfaatkan transmisi sinar laser dari pesawat atau dengan prinsip-prinsip optik lainnya untuk mengukur kedalaman

  • Metode akustik

Metode ini menggunakan gelombang suara yang dipancarkan ke dasar laut, kemudian dipantulkan dan diterima kembali oleh transducer.

2. Metode Survei Batimetri

Pemetaan batimetri biasanya menggunakan metode akustik dalam menentukan kedalaman suatu perairan. Karena metode akustik merupakan metode yang paling efektif dari segi waktu dan hasil yang didapat. Dalam praktiknya metode akustik biasanya menggunakan echosounder yang dipasang diperahu.

Echosounder akan memancarkan gelombang suara ke dasar perairan saat perahu sedang bergerak. Gelombang suara tersebut akan sampai ke dasar perairan dan dipantulkan kembali keatas dalam jangka waktu tertentu. Gelombang suara tersebut akan diterima oleh transducer yang berada dikapal.

Berdasarkan waktu dan kecepatan penjalaran gelombang suara tersebut dapat di hitungl jarak antara permukaan dan dasar laut.  Jarak tersebutlah yang merupakan kedalaman perairan tersebut. Bukan hanya dasar perairan yang akan terbaca melainkan segala objek yang berada didalam perairan tersebut akan terukur.

3. Cara Kerja Survei Batimetri

Survei Batimetri di Indonesia
Proses Pemeruman Survei Batimetri

Multi Beam Echosounder (MBES) memanfaatkan gelombang suara untuk mengukur kedalaman perairan. MBES akan memancarkan gelombang akustik ke dasar laut, kemudian gelombang tersebut akan dipantulkan dan diterima oleh transducer. Transducer akan merubah gelombang dan merubahnya menjadi satuan kedalaman.

Setelah mendapatkan jarak dan kedalaman barulah data diolah dan dibuat dalam bentuk peta batimetri.

Bukan hanya di wilayah laut, survei batimetri juga dapat memberikan informasi mengenai konfigurasi dasar dan penampang melintang sungai. Tingkat sedimentasi di sungai dan tingkat degradasi juga dapat diketahui melalui survei batimetri. Maka dari itu survei batimetri sangat perlu dilakukan sebelum merencanakan pembangunan di suatu wilayah.

4. Faktor yang harus diperhatikan

Survei Batimetri di Indonesia
Bentuk Digital Dasar Laut

Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemetaan batimetri salah satunya adalah pasang surut nya suatu perairan. Mengapa penting? karena pasang surut berpengaruh dalam penentuan nilai kedalaman sebenarnya. Tujuannya adalah untuk menentukan bidang kedalaman seperti mean sea level atau titik terendah permukaan air laut dan penentuan koreksi hasil pengukuran kedalaman agar dapat mengacu pada salah satu bidang vertikal.

Mean Sea Level (MSL) adalah tinggi permukaan laut rata-rata yang didaptkan melalui hasil pengamatan dalam kurun waktu tertentu. Duduk tengah bisa disebut juga dengan mean sea level. Selanjutnya, muka surutan adalah titik atau bidang reverensi vertikal yang berada dibawah permukaan laut terendah berdasarkan hasil pengamatan pasang surut air.

Muka surutan harus dipilih dengan tepat sehingga tidak terjadi kondisi dimana kedalaman dipeta lebih rendah dari kedalaman aktualnya. Kemudian, pada setiap melaksanakan survei batimetri pengamatan pasang surut harus bersamaan dengan waktu saat perekaman nilai kedalaman.

5. Penutup

Adanya teknologi survei batimetri, dapat memudahkan proses pemetaan suatu wilayah perairan. Dengan penerapan teknologi yang ada, informasi mengenai dasar perairan dan tingkat kedalamannya pun bisa didapatkan dengan mudah. Tentu saja ini akan sangat bermanfaat dalam setiap sektor industri yang menggunakan wilayah perairan.

Tidak hanya dalam hal perencanaan pembangunan melainkan pemeliharaannya juga akan terbantu dengan adanya batimetri. Oleh karena itu Master Mutu Indonesia https://mastermutu.co.id/melaui Master Gis Indonesia https://surveypemetaan.com menawarkan jasa survei batimetri sebagai solusi bagi anda yang membutuhkan. Disupport dengan tenaga ahli yang profesional dan jaminan hasil yang akurat dan lengkap.

Leave a Comment